Angin malam berhembus dengan cukup kencang, membuat rambut
yang memang sengaja tidak diikat oleh indah terurai. Gadis ini memandang bulan
sabit yang kini berada diatas kepalanya setelah menghabiskan satu botol minuman
beralkohol yang kini botolnya telah tergeletak tak berdaya. Seperti dihipnotis,
dia tidak memalingkan sedikitpun pandangannya dari sang rembulan.
‘Kenapa hidup gue
begini ya, apa yang salah sebenernya dari diri gue. Dulu gue punya keluarga
yang harmonis, tapi sekarang keluarga gue juga udah berantakan. Dulu
nilai-nilai gue juga bagus, sekarang apalagi yang bisa gue banggain’
Seperti itulah yang dibayangkan oleh indah setiap malam
sambil menatap bulan di atas apartemennya, indah makin tenggelam dengan apa
yang sedang dibayangkannya.
“Masih suka sendirian ditengah malem diatas atap ini.”
Suara itu seperti tak menembus kedalam lamunan indah, entah
sudah sedalam mana dia membayangkan kekurangan yang dia alami.
“uuuwwwhhh dingin… kamu nggak apa-apa dengan pakaian seperti
itu?”
Kembali terdengar suara yang seperti menanyakan sesuatu,
namun indah masih tetap tak menghiraukan suara tersebut. Memang malam ini indah
datang ke atap hanya dengan menggunakan sebuah sweater panjang tapi dengan
bahan yang tipis yang dipadu dengan celana jeans.
Tak terasa indah merasakan tubuhnya semakin lemas dan
pandangannya juga mulai memudar, indah pun ambruk seketika disaat yang sama
juga rintik-rintik hujan mulai turun, namun dia mendengar seperti langkah kaki
yang makin mendekati dirinya.
“Hei kamu nggak apa-apa.. hei.. hei..”
“kamu ini sia…….”
Kesadarannya pun menghilang sebelum dia berhasil mengucapkan
satu kalimat. Entah orang tersebut mendengarkannya atau tidak.
---------------------
---------------------------------------------- ----------------------------- -------
Kedua mata seorang gadis perlahan-lahan terbuka namun yang
terlihat bukan bulan beserta langit malam hari yang terakhir dia pandangi.
Begitu matanya sudah terbuka penuh, gadis ini berusaha untuk menggerakkan
badannya masih sedikit terasa lemas.
‘ini ditempat tidur,
apa gue semalam gue sudah turun dan langsung kekamar gue ya’ pikirnya
Sambil coba mengumpulkan lagi ingatannya, Indah mencoba
berdiri namun karena masih lemas dia akhirnya hanya bisa duduk diatas kasur.
Beberapa detik kemudian merasa seperti ada keanehan yang terjadi. Dia melihat
sekelilingnya namun dia tidak mengenali kamar tidurnya saat ini.
‘Apa ini masih di alam
mimpi?’ kembali dia bertanya pada dirinya sendiri
Kembali dia coba untuk berdiri dan melangkahkan kakinya untuk
menganalisa yang ada disekitarnya ini. langkah kaki indah menuju sebuah pintu
yang terdekat dengan tempat tidur tadi. Begitu sudah sampai di depan pintu
tersebut, langsung saja dibuka pintu tersebut. Dari celah pintu yang terbuka
dia merasa bahwa ruangan ini adalah kamar mandi, dan begitu pintunya perlahan-lahan
terbuka dia melihat sesosok bayangan pria yang sedang memunggunginya. Karena
indah masih merasa bahwa dia saat ini berada didunia mimpi, dia akhirnya
membuka pintunya semua dan yang terlihat didalam ruangan tersebut adalah
seorang pria muda yang sedang memunggungi dirinya hendak mengenakan celana
jeans panjang namun dia sudah memakai boxer dan belum memakai baju.
“ehm……” Indah pun hanya termenung dalam diam untuk beberapa
detik
“KKKKKYYYYAAAAA….”
Itulah ucapan pertama bukan itu adalah repon indah begitu
sadar bahwa ada seorang pria yang sedang berada diruangan tersebut. Sontak saja
teriakan tersebut juga membuat pria yang ada didepannya kaget dan segera
membalikkan badannya. Begitu pria ini melihat bahwa indah sudah didepan pintu
dia hanya bisa terpaku diam.
“UUUUWWWWWWAAAAAAAA…..” kembali indah menjerit lebih
histeris dan pingsan
Sontak saja melihat indah pingsan, pria tersebut langsung
membawa indah yang sudah berada dilantai menuju kasur kembali. Pria ini
langsung mencari minyak angin yang dimilikinya dan kemudian membauinya kepada
Indah. Tak sampai lima menit, Indah yang pingsan sudah mulai membuka matanya.
“Udah bangun non, ngagetin aja kirain ada apaan,” keluh pria
tersebut.
Indah yang baru bangun dari pingsannya kembali terkejut
melihat seorang pria yang tak dikenalnya berada disampingnya dengan
bertelanjang dada.
“KKKKYYYYAAAAA….” Kembali Indah berteriak sambil mencoba
menutupi tubuhnya dengan selimut yang ada.
“Ada apa sih?” tanya pria tersebut kembali.
“Lu siapa? Kenapa gue bisa ada disini. Jangan-jangan lu
macem-macemin gue ya,” kata Indah sambil menangis sesunggukan.
“Hah?” tanya balik pria tersebut.
“Nggak usah berlagak bodoh deh. Lu… Lu itu bakalan gue
laporin ke polisi,” ancam Indah yang kemudian langsung lari keluar dari kamar
tersebut.
“eh ehk tunggu dulu,” ujar pria tersebut sambil mengejar
Indah.
Indah yang sampai keruang tamu langsung mencoba menghubungi
melalui handphonenya, namun tidak ada sinyal di handphonenya. Dia segera
mencari telpon yang ada, begitu ketemu langsung dia hubungi 110 nomor darurat
polisi.
“Selamat malam, ada yang bisa…..”
Suara dari ujung telpon terputus tiba-tiba. Ternyata pria
tersebut sudah menekan tombol end yang
ada.
“Kamu apa-apaan maen telpon polisi aja,” kata pria tersebut
sambil mencoba mencabut kabel telpon tersebut.
“Biar pemerkosa kaya kamu bisa dapet hukuman yang
setimpal!!” ujar Indah yang dengan nada tinggi.
“Tunggu, tunggu… Aku perkosa kamu maksudnya gitu?”
“Lu kira daritadi gue ngomong sama siapa. Hah. Tembok
gitu!!” balas Indah.
“Sepertinya kamu salah sangka deh, aku nggak ngapa-ngapain
kamu kok,”
“Lu kira gue bodoh. Bisa lu bohongin begitu!!” kembali Indah
dengan nada emosi membentak pria tersebut.
“Coba kamu inget apa yang terakhir kamu ingat malam ini,”
kata sang pria.
“………..”
Indah hanya bisa terdiam ketika dia mencoba mengingat apa
yang terakhir diingatnya sebelum sampai dia tertidur diatas tempat tidur orang
lain. Diingatannya, Indah sedang menatapi rembulan dengan ditemani minuman
beralkohol dan tiba-tiba datang seorang pria. Hanya sampai situ ingatannya
berakhir.
“Tapikan lu bisa ngapa-ngapain gue saat gue nggak sadar. Apa
yang lu lakuin ke gue sampai gue bisa di atas tempat tidur lu?!” tanya Indah
yang masih sedikit emosi.
“Kamu kebanyakan minum, trus karena aku nggak tahu
ruangan kamu dimana jadi aku bawa aja
kamu yang udah nggak sadar kesini,” jawab pria tersebut.
“Yang bener? Lu nggak bohongkan?” kembali Indah menanya pria
itu namun kali ini emosinya sudah mulai mereda.
“Buat apa aku bohong, berani suer deh. Lihat aja pakaianmu
aja masih utuhkan,” jawabnya meyakinkan Indah.
Langsung saja Indah mengecek pakaian yang dia kenakan, dan
tidak ditemukan hal yang aneh. Sesaat kemudian Indah ingat pria yang saat ini
ada didepannya adalah pria yang dia marahi saat di parkiran sebuah mall.
“Lu cowok yang yang waktu itu diparkirankan? Lu ngikutin gue
terus ya? Jangan-jangan bener lagi lu mau ngelakuin sesuatu ke gue ya,” cecar
Indah.
“Hah?”
Hanya hal tersebut yang bisa diucapkan sang pria sambil
menggaruk rambutnya yang tak gatal.
“Nggak kok, itu kebetulan aja kok,” jawab sang pria
menanggapi cecaran Indah.
“Udahlah nggak usah berlagak bodoh deh. Ngaku aja lu!” balas
Indah.
“Nggak percaya banget sama aku.”
“Tampang lu soalnya nggak meyakinkan.”
“Wah main fisik. Memang tampangku ini nggak lebih ganteng
dari Brad pitt, tapi yang aku bilang semua bener lho,” ujar sang pria sambil
memasang senyum yang memperlihatkan giginya.
“Nggak usah nyengir deh,” sahut Indah yang sedikit tersenyum
melihat ekspresi pria yang ada didepannya.
“Nah gitu dong non, dari tadi senyum dong. Kalau orang
cemberut nggak enak dilihat.”
“Biarin.”
Itulah yang terucap dari mulut Indah sambil memasang muka
cemberutnya lagi. Untuk beberapa saat suasana diruangan itu mendadak hening
karena sama-sama tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
“Tunggu sebentar, Aku pakai baju dulu ya,” kata pria tersebut
sambil lari kekamar kembali.
“KKKYYAAAA…”
Indah yang juga baru sadar kalau pria tersebut belum pakai
bajunya hanya bisa berteriak lagi. Indah merasa pria tersebut sedikit aneh
namun entah kenapa saat dia memikirkan pria itu dia tersenyum sendiri.
Tak lama, pria tersebut sudah keluar dari kamarnya mengenakan
kemeja biru yang dipadukan dengan celana levis. Langsung saja pria itu menghampiri
Indah yang sedang duduk di sofa dan ikut duduk didepan Indah.
“Jadi gimana? Udah percayakan sama aku,” kata pria tersebut
membuka obrolan.
“Nggak juga… coba deh boleh lihat SIM lu,” pinta Indah.
“Buat apa? Nih…..” tanya sang pria sambil memberikan SIM C
miliknya.
“Untuk sementara gue tahan SIM lu, kalau ternyata ada
apa-apa sama gue jadi bisa langsung tuntut lu,” jawab Indah.
“lha, kok gitu.”
Indah tidak membalas perkataan pria tersebut. Dia sedang
membaca data diri sang pria yang tertera di SIM tersebut.
‘Jadi nama orang ini
Dwi Listyan Raditya, nama yang aneh,’ pikir Indah.
“Ouh jadi nama lu Dwi Listyan Raditya, namanya aneh banget. Terus
gue manggil lu siapa nih?” tanya Indah
“Panggil aja aku Tyan, tapi itu kamu nanya apa menghina nih.”
“Hahaha.. abis namamu bisa jadi nama tiga orang sih, ouh ya
kenalin gue Indah. Jadi kalau ada apa-apa gue hubungin alamatmu disini, oke. Oh
ya, ruangan lu ini nomer berapa?” kata Indah sambil sedikit tertawa.
“1403.kamu itu penghuni apartemen sini juga, pasti tahulah.”
“Oke kalau gitu langsung balik ketempat gue aja deh. Awas lu
jangan kabur!” ancam Indah namun kali ini dengan senyuman.
Indah pun keluar dari tempat pria yang bernama Tyan tersebut
dan melihat ternyata benar nomor apartemen yang diberitahu oleh Tyan. Ruangan tersebut
ternyata ada dilantai 21, sedangkan ruangan milik Indah itu nomor 809 yang
berada dilantai 17. Indah segera mencatat nomor dan lantainya didalam handphone
miliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar