menu

Sabtu, 21 Maret 2015

Part 6 (Rembulan Menerangi Hujan)



Angin malam berhembus dengan cukup kencang, membuat rambut yang memang sengaja tidak diikat oleh indah terurai. Gadis ini memandang bulan sabit yang kini berada diatas kepalanya setelah menghabiskan satu botol minuman beralkohol yang kini botolnya telah tergeletak tak berdaya. Seperti dihipnotis, dia tidak memalingkan sedikitpun pandangannya dari sang rembulan.

Kenapa hidup gue begini ya, apa yang salah sebenernya dari diri gue. Dulu gue punya keluarga yang harmonis, tapi sekarang keluarga gue juga udah berantakan. Dulu nilai-nilai gue juga bagus, sekarang apalagi yang bisa gue banggain’

Seperti itulah yang dibayangkan oleh indah setiap malam sambil menatap bulan di atas apartemennya, indah makin tenggelam dengan apa yang sedang dibayangkannya.

“Masih suka sendirian ditengah malem diatas atap ini.”


Suara itu seperti tak menembus kedalam lamunan indah, entah sudah sedalam mana dia membayangkan kekurangan yang dia alami.

“uuuwwwhhh dingin… kamu nggak apa-apa dengan pakaian seperti itu?”

Kembali terdengar suara yang seperti menanyakan sesuatu, namun indah masih tetap tak menghiraukan suara tersebut. Memang malam ini indah datang ke atap hanya dengan menggunakan sebuah sweater panjang tapi dengan bahan yang tipis yang dipadu dengan celana jeans.

Tak terasa indah merasakan tubuhnya semakin lemas dan pandangannya juga mulai memudar, indah pun ambruk seketika disaat yang sama juga rintik-rintik hujan mulai turun, namun dia mendengar seperti langkah kaki yang makin mendekati dirinya.

“Hei kamu nggak apa-apa.. hei.. hei..”

“kamu ini sia…….”

Kesadarannya pun menghilang sebelum dia berhasil mengucapkan satu kalimat. Entah orang tersebut mendengarkannya atau tidak.

---------------------     ----------------------------------------------    -----------------------------   -------

Kedua mata seorang gadis perlahan-lahan terbuka namun yang terlihat bukan bulan beserta langit malam hari yang terakhir dia pandangi. Begitu matanya sudah terbuka penuh, gadis ini berusaha untuk menggerakkan badannya masih sedikit terasa lemas.

ini ditempat tidur, apa gue semalam gue sudah turun dan langsung kekamar gue ya’ pikirnya

Sambil coba mengumpulkan lagi ingatannya, Indah mencoba berdiri namun karena masih lemas dia akhirnya hanya bisa duduk diatas kasur. Beberapa detik kemudian merasa seperti ada keanehan yang terjadi. Dia melihat sekelilingnya namun dia tidak mengenali kamar tidurnya saat ini.

Apa ini masih di alam mimpi?’ kembali dia bertanya pada dirinya sendiri

Kembali dia coba untuk berdiri dan melangkahkan kakinya untuk menganalisa yang ada disekitarnya ini. langkah kaki indah menuju sebuah pintu yang terdekat dengan tempat tidur tadi. Begitu sudah sampai di depan pintu tersebut, langsung saja dibuka pintu tersebut. Dari celah pintu yang terbuka dia merasa bahwa ruangan ini adalah kamar mandi, dan begitu pintunya perlahan-lahan terbuka dia melihat sesosok bayangan pria yang sedang memunggunginya. Karena indah masih merasa bahwa dia saat ini berada didunia mimpi, dia akhirnya membuka pintunya semua dan yang terlihat didalam ruangan tersebut adalah seorang pria muda yang sedang memunggungi dirinya hendak mengenakan celana jeans panjang namun dia sudah memakai boxer dan belum memakai baju.

“ehm……” Indah pun hanya termenung dalam diam untuk beberapa detik

“KKKKKYYYYAAAAA….”

Itulah ucapan pertama bukan itu adalah repon indah begitu sadar bahwa ada seorang pria yang sedang berada diruangan tersebut. Sontak saja teriakan tersebut juga membuat pria yang ada didepannya kaget dan segera membalikkan badannya. Begitu pria ini melihat bahwa indah sudah didepan pintu dia hanya bisa terpaku diam.

“UUUUWWWWWWAAAAAAAA…..” kembali indah menjerit lebih histeris dan pingsan

Sontak saja melihat indah pingsan, pria tersebut langsung membawa indah yang sudah berada dilantai menuju kasur kembali. Pria ini langsung mencari minyak angin yang dimilikinya dan kemudian membauinya kepada Indah. Tak sampai lima menit, Indah yang pingsan sudah mulai membuka matanya.

“Udah bangun non, ngagetin aja kirain ada apaan,” keluh pria tersebut.

Indah yang baru bangun dari pingsannya kembali terkejut melihat seorang pria yang tak dikenalnya berada disampingnya dengan bertelanjang dada.

“KKKKYYYYAAAAA….” Kembali Indah berteriak sambil mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut yang ada.

“Ada apa sih?” tanya pria tersebut kembali.

“Lu siapa? Kenapa gue bisa ada disini. Jangan-jangan lu macem-macemin gue ya,” kata Indah sambil menangis sesunggukan.

“Hah?” tanya balik pria tersebut.

“Nggak usah berlagak bodoh deh. Lu… Lu itu bakalan gue laporin ke polisi,” ancam Indah yang kemudian langsung lari keluar dari kamar tersebut.

“eh ehk tunggu dulu,” ujar pria tersebut sambil mengejar Indah.

Indah yang sampai keruang tamu langsung mencoba menghubungi melalui handphonenya, namun tidak ada sinyal di handphonenya. Dia segera mencari telpon yang ada, begitu ketemu langsung dia hubungi 110 nomor darurat polisi.

“Selamat malam, ada yang bisa…..”

Suara dari ujung telpon terputus tiba-tiba. Ternyata pria tersebut sudah menekan tombol end yang ada.

“Kamu apa-apaan maen telpon polisi aja,” kata pria tersebut sambil mencoba mencabut kabel telpon tersebut.

“Biar pemerkosa kaya kamu bisa dapet hukuman yang setimpal!!” ujar Indah yang dengan nada tinggi.

“Tunggu, tunggu… Aku perkosa kamu maksudnya gitu?”

“Lu kira daritadi gue ngomong sama siapa. Hah. Tembok gitu!!” balas Indah.

“Sepertinya kamu salah sangka deh, aku nggak ngapa-ngapain kamu kok,”

“Lu kira gue bodoh. Bisa lu bohongin begitu!!” kembali Indah dengan nada emosi membentak pria tersebut.

“Coba kamu inget apa yang terakhir kamu ingat malam ini,” kata sang pria.

“………..”

Indah hanya bisa terdiam ketika dia mencoba mengingat apa yang terakhir diingatnya sebelum sampai dia tertidur diatas tempat tidur orang lain. Diingatannya, Indah sedang menatapi rembulan dengan ditemani minuman beralkohol dan tiba-tiba datang seorang pria. Hanya sampai situ ingatannya berakhir.

“Tapikan lu bisa ngapa-ngapain gue saat gue nggak sadar. Apa yang lu lakuin ke gue sampai gue bisa di atas tempat tidur lu?!” tanya Indah yang masih sedikit emosi.

“Kamu kebanyakan minum, trus karena aku nggak tahu ruangan  kamu dimana jadi aku bawa aja kamu yang udah nggak sadar kesini,” jawab pria tersebut.

“Yang bener? Lu nggak bohongkan?” kembali Indah menanya pria itu namun kali ini emosinya sudah mulai mereda.

“Buat apa aku bohong, berani suer deh. Lihat aja pakaianmu aja masih utuhkan,” jawabnya meyakinkan Indah.

Langsung saja Indah mengecek pakaian yang dia kenakan, dan tidak ditemukan hal yang aneh. Sesaat kemudian Indah ingat pria yang saat ini ada didepannya adalah pria yang dia marahi saat di parkiran sebuah mall.

“Lu cowok yang yang waktu itu diparkirankan? Lu ngikutin gue terus ya? Jangan-jangan bener lagi lu mau ngelakuin sesuatu ke gue ya,” cecar Indah.

“Hah?”

Hanya hal tersebut yang bisa diucapkan sang pria sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.

“Nggak kok, itu kebetulan aja kok,” jawab sang pria menanggapi cecaran Indah.

“Udahlah nggak usah berlagak bodoh deh. Ngaku aja lu!” balas Indah.

“Nggak percaya banget sama aku.”

“Tampang lu soalnya nggak meyakinkan.”

“Wah main fisik. Memang tampangku ini nggak lebih ganteng dari Brad pitt, tapi yang aku bilang semua bener lho,” ujar sang pria sambil memasang senyum yang memperlihatkan giginya.

“Nggak usah nyengir deh,” sahut Indah yang sedikit tersenyum melihat ekspresi pria yang ada didepannya.

“Nah gitu dong non, dari tadi senyum dong. Kalau orang cemberut nggak enak dilihat.”

“Biarin.”

Itulah yang terucap dari mulut Indah sambil memasang muka cemberutnya lagi. Untuk beberapa saat suasana diruangan itu mendadak hening karena sama-sama tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

“Tunggu sebentar, Aku pakai baju dulu ya,” kata pria tersebut sambil lari kekamar kembali.

“KKKYYAAAA…”
Indah yang juga baru sadar kalau pria tersebut belum pakai bajunya hanya bisa berteriak lagi. Indah merasa pria tersebut sedikit aneh namun entah kenapa saat dia memikirkan pria itu dia tersenyum sendiri.

Tak lama, pria tersebut sudah keluar dari kamarnya mengenakan kemeja biru yang dipadukan dengan celana levis. Langsung saja pria itu menghampiri Indah yang sedang duduk di sofa dan ikut duduk didepan Indah.

“Jadi gimana? Udah percayakan sama aku,” kata pria tersebut membuka obrolan.

“Nggak juga… coba deh boleh lihat SIM lu,” pinta Indah.

“Buat apa? Nih…..” tanya sang pria sambil memberikan SIM C miliknya.

“Untuk sementara gue tahan SIM lu, kalau ternyata ada apa-apa sama gue jadi bisa langsung tuntut lu,” jawab Indah.

“lha, kok gitu.”

Indah tidak membalas perkataan pria tersebut. Dia sedang membaca data diri sang pria yang tertera di SIM tersebut.

‘Jadi nama orang ini Dwi Listyan Raditya, nama yang aneh,’ pikir Indah.

“Ouh jadi nama lu Dwi Listyan Raditya, namanya aneh banget. Terus gue manggil lu siapa nih?” tanya Indah

“Panggil aja aku Tyan, tapi itu kamu nanya apa menghina nih.”

“Hahaha.. abis namamu bisa jadi nama tiga orang sih, ouh ya kenalin gue Indah. Jadi kalau ada apa-apa gue hubungin alamatmu disini, oke. Oh ya, ruangan lu ini nomer berapa?” kata Indah sambil sedikit tertawa.

“1403.kamu itu penghuni apartemen sini juga, pasti tahulah.”

“Oke kalau gitu langsung balik ketempat gue aja deh. Awas lu jangan kabur!” ancam Indah namun kali ini dengan senyuman.

Indah pun keluar dari tempat pria yang bernama Tyan tersebut dan melihat ternyata benar nomor apartemen yang diberitahu oleh Tyan. Ruangan tersebut ternyata ada dilantai 21, sedangkan ruangan milik Indah itu nomor 809 yang berada dilantai 17. Indah segera mencatat nomor dan lantainya didalam handphone miliknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar