menu

Sabtu, 21 Maret 2015

Part 4 (Rembulan Menerangi Hujan)



Pagi menjelang, sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela yang menghantarkan kehangatan ditengah kesedihan Fitri yang masih menunggu Tyan bangun dari koma. dia menginap semalam bersama dengan orang tua tyan yang memang sudah cukup akrab karena Tyan sering mengajak Fitri kerumahnya.
 

"Fit, kamu hari ini nggak kuliah nak??" tanya ibunya Tyan
 

"Hari ini Fitri cuma ada 1 mata kuliah tante, itupun sore. Jadi Fitri boleh jagain Tyan sampe nanti ya tan" jawab Fitri sambil tangannya menggeam tangan tyan.
 

"Ya sudah kamu istirahat dulu sana… Dari kemarin kamu itu udah jagain anak tante. sampe-sampe kamu tidur disini juga."

"Nggak apa-apa tante. Nanti juga Fitri pasti istirahat koq. ouh ya, om kemana tan??" tanya Fitri begitu melihat papahnya Tyan sudah tidak ada diruangan.

"Ouh, om langsung berangkat kerja tadi pas kamu masih tidur." jawab ibunya tyan.

 

Tanpa aba-aba, kedua perempuan berbeda generasi tersebut sama-sama diam. Mereka sama-sama melihat keadaan Tyan yang masih juga belum sadar. tiba-tiba saja ibunya tyan memecah kesunyian diantara mereka berdua.
 

"Tyan beruntung ya orang yang disayanginya selalu menemani dia walau gimanapun keadaaan dia saat ini," ujar ibunya tyan.
 

"Maaf apa tante??" tanya Fitri kepada ibunya tyan.
 

"eehhk.. Nggak koq, nggak apa-apa," jawab ibunya tyan.
 

Sunyi kembali menghiasi ruangan tersebut. yang terdengar hanyalah suara dari peralatan yang ada diruangan tersebut.
 

"Menurut kamu Tyan itu orangnya seperti apa sih fit??" tanya ibunya tyan
 

"Tyan itu menurut aku spesial banget tan, nggak tahu apa yang buat dia begitu spesialnya. tapi yang pasti Fitri setiap dideket Tyan rasanya nyaman banget."
 

"Kamu suka ya sama tyan??" tanya ibunya tyan
 

Fitri yang mendengar pertanyaan tersebut seperti tidak bisa menjawabnya. Dia hanya bisa membalasnya dengan senyuman yang menghiasi bibir mungilnya.
 

"Tante tahu dari matamu,fit, mungkin Tyan juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan walau dia sampai sekarang belum sadar." ujar ibunya tyan yang tanpa sengaja meneteskan air matanya.
 

"Tante kenapa?? koq nangis tan??" tanya Fitri yang melihat keadaan ibunya tyan.
 

"Nggak apa-apa koq fit. tante malah seneng koq."
 

Disudut lain, Indah berjalan menuju mobilnya yang terparkir disebuah pusat perbelanjaan. Dia berjalan membawa barang-barang belanjaan namun dengan tatapan kosong menuju ke mobilnya. Begitu sampai dimobilnya dia menaruh belanjaannya di kursi belakang dan kembali menatap mobil-mobil lain yang berada didepannya dengan tatapan kosong.
 
ttrrriiinngggg ttrrriiinngggg tttrrrriiinnnggg
 

Suara handphone yang dibawanya berdering namun dia seperti tidak mendengarkannya.
 
ttrrriiinngggg ttrrriiinngggg tttrrrriiinnnggg
 

Kembali handphone yang dibawanya berdering, namun kali ini dia tersadar dan segera mengangkat panggilan yang sejak tadi berusaha menelponnya.
 
"Hallo.. Indah, kamu lagi dimana nak??" tanya suara dari seberang sana yang ternyata ibunya
 
"Lagi di mall. Kenapa memangnya??" tanyanya datar

"Adik kamu sakit ndah. kamu pulang dong nak, bantuin ibu ngurus adikmu," pinta ibunya
 
"Kenapa Indah mesti pulang. kan selama ini ibu yang jagain mitha, jadi buat apa ibu minta bantuan indah." balas indah
 

"Indah… kamu koq gitu, gimana juga inikan adikmu" kata ibunya dengan nada lirih
 

"Kenapa mesti indah bu?? kenapa nggak telpon papah aja. Apa ibu gengsi minta bantuan sama papah?!" tanya indah dengan agak kesal
 
"Indah...."


"kenapa bu?? semenjak keluarga kita nggak utuh lagi, ibu hanya selalu memikirkan diri ibu sendirikan?? bahkan sampai mitha sakit kaya sekarang aja ibu minta bantuan indah. Udahlah, indah lagi capek bu."
 

Seketika saja telpon ditutup secara sepihak oleh indah. Indah hanya bisa melihat layar handphonenya yang sudah kembali ketampilan wallpapernya.

“Maaf mah, bukannya aku nggak mau ngebantu tapi aku mau kita kaya dulu lagi” kata Indah pelan.
                                                     
“Kalau kaya gitu kamu tuh bukannya memperbaiki keadaan, yang ada malah mungkin memperburuk keadaan,” ujar seorang pria yang tiba-tiba hadir didekatnya.

Indah menoleh kearah sumber suara yang berada disebelah kanannya. Dari dalam mobil, dia melihat seorang pria sedang memunggunginya. Indah pun segera keluar dan menghampiri pria tersebut.

“Permisi, maksud dari perkataan anda barusan apa ya?” Tanya Indah.

“Ouh, bukan apa-apa koq, iseng aja.” Jawab pria tersebut sambil membalikkan badannya menghadap indah sambil menampilkan wajah dengan penuh senyum.

Indah yang melihat muka pria tersebut, merasa seperti pernah melihat pria tersebut. Namun dia lupa dimana tepatnya bertemu dengannya.

“hallo, apa orangnya sudah kembali,” ujar pria tersebut sambil mengibas-ngibaskan tanganya didepan gadis tersebut.

Indah yang berusaha mengingat pria ini tanpa sadar menunjukan wajah yang nampak melamun beberapa detik. Didetik-detik selanjutnya dia sudah kembali kekesadarannya lagi dan melihat pria tersebut mengibas-ngibaskan tangan didepan mukanya.

“Jangan sok akrab ya dengan saya seperti kita pernah bertemu saja,” ujar Indah menangkap tangan pria tersebut.

“Sudah kembali dari melamunnya mbak….hhhmmmm, mungkin bisa dibilang sudah pernah dan bisa juga dibilang tidak pernah. Ya pokoknya seperti itulah,” jawabnya sambil tetap tersenyum.

“Anda jangan bercanda ya sama saya.!!” hardik Indah sambil mencengkram tangan pria tersebut semakin keras.

“Adu du duh… beneran koq, berani sumpah dah,” jawab pria tersebut pura-pura kesakitan.

“Sudahlah, percuma saya berbicara dengan anda.” Kata Indah sambil melepaskan tangan pria tersebut dan kembali lagi kemobilnya.

Didalam sedan hitamnya, Indah menutup kaca mobilnya dan menyalakan mesin mobilnya dan menghidupkan AC namun tidak lantas menjalankan mobilnya keluar parkiran. Dia berusaha menenangkan pikirannya yang sedang emosi.

“Kenapa gw harus berurusan dengan pria itu, bahkan sampai ngebikin tuh orang kesakitan. Padahalkan bisa aja yang dia bilang itu bukan ke gw, bisa aja tadi dia lagi nelpon seseorang.”

Pikiran-pikiran bersalah terhadap pria tersebut mengganggu pikiran Indah yang sudah lebih tenang. Indah pun membuka kaca pintu mobilnya dan bermaksud meminta maaf. Namun pria tersebut sudah tidak ada.

“Ya sudahlah, toh belum tentu kita bakal bertemu lagi nanti,” Kata indah.

Kembali indah menutup kaca mobilnya dan menjalankan mobilnya dari pelataran parkir.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar